Anggota DPR RI Ajak Warga Kepulauan Sula Gemar Makan Ikan

Alien Mus - Anggota DPR RI Dapil Malut

DUAZONA.COM, SANANA – Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) Dapil Maluku Utara, Alien Mus, mengajak masyarakat Kepulauan Sula untuk bersama – sama menurunkan angka stunting.

Hal ini dikatakan Alien Mus saat memberikan arahan pada penutupan acara lomba masak menu anak cegah stunting, bertempat di depan Benteng De Verwachting Sanana, Selasa (8/8/2023)

Menurutnya, untuk menurunkan angka stunting di Kabupaten Kepulauan Sula, anak anak usia dini terlebih banyak konsumsi daging ikan.

“Ibu ibu atau mama mama, tidak begitu menyadari bahwa bayi atau selama mengandung sembilan bulan lebih, bagusnya mengkonsumsi ikan,”  katanya.

Anak usia balita katanya sangat penting konsumsi makan bergizi. “Ibu -ibu yang masih menyusui harus banyak konsumsi ikan,” Alein mengingatkan kepada peserta menu masak anak cegas stunting.

Dia pun menjelaskan, protein daging ikan dan manfaat bagi kesehatan anak. “Ikan mengandung O mega-3 terus protein bisa mengembankan unsur tubuh anak,” katanya.

Sementara itu, dilain kegiatan, Alien Mus  juga mendorong ekspor produk khas lokal di Kabupaten Kepulauan Sula, untuk dipromosikan di tingkat nasional.

Hal itu dikatakannya dalam bimbingan teknis ekspor komoditas pertanian Maluku Utara, bersiap menuju pasar ekspor, di Istana Daerah Sula, Selasa (8/8/2023).

“Karena tanah di Maluku Utara sangat subur, salah satunya ada di wilayah Kabupaten Kepulauan Sula. Oleh karena itu, komoditas kakao dari Kepulauan Sula menjadi andalan di Maluku Utara,” ujarnya.

Selain itu, Ketua DPD I Partai Golkar Maluku Utara itu mengaku, cokelat Sulamina pun menjadi komoditas andalan di Sula yang telah dipromosikan ke Kementerian Pertanian RI.

“Saya juga tidak beli cokelat dari luar daerah. Saya cukup beli cokelat Sulamina dan promosi terus, serta dikirimkan ke kementerian. Ini tidak terlepas dari perjuangan petani, sehingga komoditi cokelat Sulamina terekspos sampai di kancah nasional. Kalau saja petani atau pekebun itu tidak ada hasil cokelat, pasti tidak mungkin industri cokelat ada di sini,” katanyta. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *